Daerah

Sumsel Jadi Provinsi Ikon Kriyanusa 2026, Feby Herman Deru Pastikan Kesiapan

12 September 2026 06:06 WIB | Oleh Tri | 85 pembaca

Pavilion Sumatera Selatan menampilkan wastra dan kerajinan di pameran kriya nasional.

KlikUrban.com – Kesiapan Sumatera Selatan sebagai Provinsi Ikon pada Pameran Kriyanusa 2026 dipastikan berjalan sesuai rencana. Ketua Dekranasda Sumatera Selatan, Feby Herman Deru, menyatakan pihaknya siap menyukseskan hajatan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tersebut yang dijadwalkan berlangsung pada 26 hingga 30 September 2026. Penegasan itu disampaikan dalam rapat pemantapan dan persiapan yang digelar secara virtual (Zoom Meeting) bersama Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, Kamis (10/9/2026).

Penunjukan Sumatera Selatan sebagai Provinsi Ikon memberi panggung strategis bagi promosi kriya daerah di tingkat nasional. Status ini lazimnya menghadirkan sorotan khusus terhadap kekayaan budaya, identitas visual, serta kekhasan produk yang menjadi kebanggaan daerah. Dalam konteks Sumsel, reputasi panjang sebagai rumah bagi kriya wastra—termasuk songket Palembang yang dikenal bertabur benang emas—menjadi modal penting untuk tampil maksimal di Kriyanusa 2026.

Pameran Kriyanusa sendiri merupakan etalase tahunan Dekranas yang bertujuan memperkuat ekosistem kerajinan, mendorong pemasaran produk unggulan daerah, dan mempertemukan perajin, pelaku UMKM, kurator, pembeli, hingga publik luas. Dari waktu ke waktu, ajang ini menjadi titik temu inspirasi desain, standardisasi kualitas, serta jejaring bisnis lintas provinsi. Dengan terpilihnya Sumsel sebagai Provinsi Ikon, peluang untuk memperluas akses pasar, meningkatkan nilai tambah produk, dan mempertegas posisi wastra serta kriya Sumsel di peta industri kreatif nasional kian terbuka.

Rapat koordinasi yang dipimpin Feby Herman Deru itu menegaskan arah kerja kolaboratif lintas pemangku kepentingan, termasuk sinergi Dekranasda kabupaten/kota, komunitas perajin, dan pelaku UMKM. Momen ini menjadi ruang untuk menyamakan langkah menjelang persiapan teknis ajang pada akhir September mendatang. Meski lokasi penyelenggaraan akan mengikuti ketentuan panitia pusat, momentum konsolidasi sejak dini penting agar proses kurasi produk, penyelarasan identitas daerah, dan penguatan narasi budaya berjalan efektif dan terukur.

Baca Juga :  Penguatan Ekosistem UMKM Jadi Fokus Utama OJK

Mengapa status Provinsi Ikon penting? Selain meningkatkan eksposur, posisi ini biasanya mendorong standardisasi mutu dan desain yang lebih ketat karena sorotan publik lebih besar. Bagi perajin, hal tersebut berdampak pada peningkatan literasi pasar, pemahaman tren, serta adaptasi pada kebutuhan konsumen, baik dari sisi fungsionalitas, keberlanjutan bahan, maupun kemasan. Secara ekonomi, pengunjung yang hadir di pameran skala nasional berpotensi memperluas kanal penjualan—mulai dari penjualan ritel, pesanan khusus, sampai peluang kemitraan dengan buyer institusional.

Bagaimana Sumsel melangkah? Berbekal pengalaman keikutsertaan pada berbagai ajang kriya nasional sebelumnya, penguatan daya saing dilakukan melalui sentuhan desain yang relevan, penekanan cerita budaya yang autentik, dan konsistensi mutu pengerjaan. Di ranah wastra, misalnya, songket Palembang yang telah diakui sebagai warisan budaya takbenda Indonesia menjadi salah satu representasi identitas daerah yang kuat. Di luar itu, ragam kriya berbasis serat alam, anyaman, dan ukiran kayu dari berbagai kabupaten/kota di Sumsel juga dikenal memiliki karakter artistik yang khas—menawarkan opsi produk yang berimbang antara nilai estetik dan fungsi harian.

Aspek waktu juga krusial. Dengan agenda Kriyanusa 2026 pada 26–30 September, fase pematangan kurasi dan penyiapan materi promosi menjadi penentu. Biasanya, jelang pelaksanaan pameran, para pemangku kepentingan memperhatikan detail yang kerap luput: keseragaman identitas visual stan, narasi produk yang ringkas namun informatif, label komposisi bahan dan teknik pengerjaan, hingga kesiapan layanan purna jual dan pemesanan ulang. Semua itu akan memastikan pengalaman pengunjung lebih utuh dan pada akhirnya memperbesar peluang transaksi.

Sebagai payung pembinaan, Dekranas berperan memfasilitasi promosi serta penguatan kapasitas perajin. Di tingkat daerah, Dekranasda—dalam hal ini Sumatera Selatan—bertugas memastikan kesinambungan pembinaan mulai dari hulu (riset motif, pengembangan teknik, dan pelestarian tradisi) hingga hilir (branding, pemasaran, dan kemitraan dagang). Melalui koordinasi intensif yang dipimpin Feby Herman Deru, Sumsel menempatkan Kriyanusa 2026 bukan semata ajang pamer, melainkan kesempatan memperkuat daya saing UMKM kriya, memperluas jejaring, serta meningkatkan literasi pasar bagi pelaku kreatif.

Baca Juga :  Kolaborasi Menjadi Kunci Utama dalam Simposium ISICM 2026 di Palembang

Ke depan, keberhasilan Sumsel sebagai Provinsi Ikon tidak hanya diukur dari besarnya transaksi selama pameran, tetapi juga dari kesinambungan dampak: apakah keterhubungan dengan pembeli dan mitra tetap terpelihara, bagaimana peningkatan kapasitas perajin setelah ajang, serta sejauh mana pengetahuan yang diperoleh diterapkan pada pengembangan produk. Dengan pondasi koordinasi yang telah ditekankan melalui rapat virtual bersama Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian, kesiapan Sumsel menatap Kriyanusa 2026 kian terstruktur.

Pada akhirnya, Kriyanusa 2026 menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa warisan kriya Sumatera Selatan—yang berakar pada tradisi namun adaptif terhadap kebutuhan masa kini—mampu bertutur lantang di kancah nasional. Dengan dukungan ekosistem yang solid, Sumsel menargetkan partisipasi yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga berdaya guna bagi penguatan ekonomi kreatif daerah secara berkelanjutan.