Daerah

Peninjauan Situs Trowulan Didorong untuk Revitalisasi Museum Majapahit

14 September 2026 13:59 WIB | Oleh Tri | 40 pembaca

Peninjauan Situs Trowulan Didorong untuk Revitalisasi Museum Majapahit

KlikUrban.com – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya peninjauan menyeluruh terhadap sejumlah situs bersejarah di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sebagai bagian dari upaya mempercepat revitalisasi Museum Majapahit. Langkah tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali narasi sejarah Kerajaan Majapahit secara lebih utuh sekaligus menjadikan kawasan Trowulan sebagai pusat edukasi dan penelitian mengenai peradaban Nusantara.

Peninjauan terhadap kawasan tersebut difokuskan pada sejumlah aspek penting, mulai dari penguatan riset peradaban, penyelamatan artefak autentik, hingga pemugaran struktur yang berkaitan dengan ibu kota Kerajaan Majapahit. Pemerintah ingin memastikan berbagai peninggalan sejarah yang masih berada di kawasan Trowulan dapat diteliti, dilestarikan, dan disampaikan kepada masyarakat secara lebih komprehensif.

Dua situs yang menjadi perhatian dalam peninjauan tersebut adalah Situs Sumur Upas Sentonorejo dan Situs Bhre Kahuripan (Klinterjo). Kedua situs tersebut dinilai memiliki nilai penting dalam upaya memahami struktur dan perkembangan peradaban Majapahit.

Di Situs Sumur Upas Sentonorejo, penggunaan teknologi pemetaan Light Detection and Ranging (LiDAR) yang dipadukan dengan ekskavasi arkeologis memberikan indikasi bahwa kawasan tersebut merupakan salah satu pusat Kedaton atau yang disebut sebagai “titik nol” peradaban Majapahit.

Fadli Zon menjelaskan bahwa penelitian di kawasan tersebut menemukan indikasi adanya struktur hunian elite yang diperuntukkan bagi bangsawan dan raja. Kawasan itu juga memiliki infrastruktur yang menunjukkan tingkat perkembangan teknologi pada masanya, antara lain sistem petirtaan dan saluran pengairan.

Temuan tersebut kemudian dikaitkan dengan gambaran tata ruang dan kehidupan masyarakat Majapahit yang tercatat dalam sejumlah sumber sejarah. Salah satunya adalah Kitab Kakawin Nagarakretagama, serta catatan perjalanan dalam naskah Bujangga Manik.

Sementara itu, perhatian juga diberikan kepada Situs Bhre Kahuripan di Klinterjo. Di kawasan tersebut terdapat sebuah yoni monumental yang dihiasi ukiran kepala naga dan diduga menjadi salah satu yoni terbesar di Nusantara. Keberadaan struktur tersebut menjadi bagian penting dalam penelitian mengenai perkembangan kebudayaan dan keagamaan pada masa Majapahit.

Baca Juga :  Kemensos dan Komnas HAM Bersinergi Tangani Pengungsi Akibat Konflik di Papua Tengah

Situs Bhre Kahuripan juga memiliki denah mandala berbentuk segi delapan. Struktur tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan catatan sejarah yang terdapat dalam naskah kuno Pararaton, sehingga penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperkuat pemahaman mengenai fungsi dan konteks sejarah situs tersebut.

Fadli Zon menekankan bahwa upaya revitalisasi dan penelitian tidak semata-mata ditujukan untuk memperbaiki kondisi fisik bangunan atau menjaga artefak yang tersisa. Lebih dari itu, pemerintah ingin menyusun kembali narasi sejarah Majapahit berdasarkan hasil penelitian arkeologis dan sumber-sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan pendekatan tersebut, kawasan Trowulan diharapkan dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran mengenai sejarah dan peradaban Nusantara. Museum Majapahit juga diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi mampu memberikan pengalaman edukasi yang lebih kuat kepada masyarakat, pelajar, peneliti, dan wisatawan.

Revitalisasi kawasan secara menyeluruh diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian warisan budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah Majapahit kepada generasi mendatang. Pemerintah juga terus mendorong agar berbagai penelitian dan temuan di Trowulan dapat menjadi dasar dalam membangun narasi sejarah Nusantara yang lebih lengkap dan bernilai bagi masyarakat.