Kriya Nusa 2026 Hadir di JHCC: Instalasi Imersif, 410 Booth, dan Sumsel Jadi Ikon
KlikUrban.com – Pada 26–30 September 2026, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) bakal menggelar pameran kerajinan Nusantara berskala besar, Kriya Nusa 2026, di Jakarta Hall Convention Center (JHCC). Mengusung tema “Cinta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”, gelaran ini menjanjikan pengalaman berkunjung yang segar dan relevan bagi berbagai kalangan, terutama generasi muda, lewat hadirnya instalasi digital imersif berkonsep interaktif kelas dunia.
Alasan di balik pendekatan baru ini disampaikan langsung oleh Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian. Dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat, Jumat (18/9), ia menegaskan dorongan Dekranas untuk merangkul pasar anak muda melalui pengalaman yang adaptif. “Kami ingin menarik pasar anak muda agar mereka bisa lebih mengenal kerajinan Indonesia secara langsung dan interaktif lewat teknologi digital,” ujarnya.
Apa yang membedakan Kriya Nusa 2026 dari penyelenggaraan kerajinan pada umumnya adalah skala dan orkestrasinya. Panitia menyiapkan 410 booth yang ditempati oleh 257 peserta dari berbagai daerah, membuka ruang perjumpaan antara perajin, pelaku usaha, kurator, pembeli, dan publik luas. Keberagaman ini diharapkan menjadi jembatan kolaborasi, memperkuat jejaring, sekaligus memantik gagasan baru untuk memperluas pasar produk kriya Nusantara.
Sumatera Selatan resmi terpilih sebagai ikon pameran tahun ini. Identitas budaya Sumsel akan mendominasi tata desain pameran dan arsitektur panggung utama. Unsur tradisional Bunga Pacik—motif hias yang merefleksikan kekayaan estetika lokal—dikawinkan dengan sentuhan kontemporer untuk memunculkan tampilan yang segar tanpa meninggalkan akar tradisi. Pendekatan visual tersebut bertujuan memperkuat cerita dan nilai budaya yang mengiringi karya-karya perajin.
Dari sisi siapa yang akan tampil, Ketua Dekranasda Sumsel, Feby Herman Deru, menyampaikan bahwa pihaknya memboyong perajin pilihan dari 17 kabupaten/kota di Sumsel. Ragam karya yang disiapkan meliputi wastra adat Sumsel, ukir kayu khas Palembang, kerajinan anyaman, gerabah, serta berbagai atraksi budaya. Kehadiran perajin lintas wilayah ini memperlihatkan ekosistem yang saling terhubung—dari pewarna alami, teknik tenun, ukir, hingga inovasi desain—yang menjadi napas utama gerak ekonomi kreatif daerah.
Bagaimana pengunjung akan berinteraksi? Area instalasi digital imersif dirancang sebagai ruang eksplorasi. Pengunjung akan diajak mendekat pada proses, cerita, dan nilai di balik karya secara interaktif. Konsep ini sejalan dengan kebutuhan publik terkini yang menginginkan pengalaman multisensori—tidak hanya melihat produk, tetapi juga memahami narasi kultural, keberlanjutan, dan keterampilan tangan yang menopang setiap karya. Dengan demikian, tradisi dan teknologi dipertemukan untuk memperkuat relevansi kriya di mata generasi baru tanpa mengaburkan esensi lokalnya.
Dari sudut pandang kapan dan di mana, jadwal yang padat pada 26–30 September 2026 di JHCC memberi ruang lima hari untuk temu wicara, transaksi, kurasi, dan promosi. Lokasi yang strategis di pusat ibu kota memudahkan akses publik, komunitas kreatif, dan pembeli profesional. Sementara itu, pernyataan resmi pada Jumat (18/9) di Gedung Komdigi menandai keseriusan penyelenggara dalam menghadirkan pameran yang terstruktur dan komunikatif sejak tahap persiapan.
Untuk apa semua ini? Selain merayakan keragaman kriya sebagai identitas budaya, pameran diarahkan untuk memperkuat skema keberlanjutan. Tema “Cinta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” menegaskan pentingnya praktik produksi yang bertanggung jawab, regenerasi perajin, dan peningkatan kualitas agar berdaya saing di pasar global. Penekanan pada edukasi, pengalaman interaktif, serta pemanfaatan teknologi diharapkan memperluas kesadaran publik terhadap nilai ekonomi dan budaya dari sebuah karya tangan.
Siapa yang diuntungkan? Tentu saja perajin, UMKM, dan komunitas kreatif yang selama ini menjadi aktor utama ekosistem kriya. Namun, pengunjung pun memperoleh manfaat: wawasan baru, jejaring, dan kemungkinan kemitraan, sembari menikmati atmosfer pameran yang dikurasi. Dengan Sumsel tampil sebagai ikon, publik berkesempatan menelusuri karakter dan kekayaan estetika setempat—termasuk spektrum wastra adat yang dikenal luas—serta teknik pengerjaan yang melekat pada ukir, anyaman, dan gerabah.
Pada akhirnya, bagaimana keberhasilan diukur akan kembali pada tingkat partisipasi, keterlibatan pengunjung, dan kesinambungan dampak bagi perajin setelah pameran usai. Tetapi dengan kombinasi 257 peserta, 410 booth, kurasi yang menonjolkan Sumatera Selatan, serta sentuhan instalasi digital imersif, Kriya Nusa 2026 menyiapkan panggung besar untuk menyajikan wajah baru kerajinan Indonesia—berakar pada tradisi, bertumbuh lewat inovasi, dan menatap pasar dunia.