Sumsel Luncurkan Teknologi Dry Ice; Dudung: Penanganan Karhutla Harus Cepat, Tegas, Presisi
KlikUrban.com – Peluncuran teknologi dry ice untuk membantu mereduksi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masuk dalam agenda penanganan di Sumatera Selatan. Inovasi ini disampaikan langsung oleh Menkopolhukam RI, Dudung Abdurachman, dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Griya Agung, Palembang, Rabu (14/10/2026). Ia menekankan bahwa penanganan karhutla harus dijalankan secara cepat, tegas, dan presisi, sekaligus memastikan kerja keras para personel diketahui publik sebagai bentuk akuntabilitas pemerintah.
Dalam pertemuan yang sama, Dudung menegaskan komitmen penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan. Menurutnya, sanksi tegas dibutuhkan sebagai efek jera agar kejadian serupa tidak berulang. Ia juga menyampaikan rencana untuk meninjau sekaligus meluncurkan teknologi dry ice yang diharapkan dapat memperkuat penanganan dampak kabut asap di wilayah terdampak, termasuk Sumatera Selatan.
Dari sisi daerah, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyoroti tantangan spesifik di lapangan, terutama kebakaran pada lahan gambut. Karakteristik gambut membuat bara api kerap bertahan di bawah permukaan, sehingga perlu pemantauan berkelanjutan agar titik asap tersembunyi dapat segera terdeteksi dan ditangani. Ia juga mengapresiasi perhatian serta dukungan pemerintah pusat terhadap upaya penanggulangan di Sumsel.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan per 14 Oktober 2026 mencatat 891 titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 625 titik, diikuti Banyuasin 126 titik, Musi Banyuasin 53 titik, Muara Enim 47 titik, Ogan Ilir 15 titik, dan OKU Timur 15 titik. Angka tersebut menjadi rujukan penting untuk memfokuskan strategi, mempertebal patroli, dan mengarahkan sumber daya pada kawasan paling rentan.
Dalam upaya darurat, Sumatera Selatan mengerahkan 12.710 personel Satgas yang terdiri atas BPBD provinsi dan kabupaten/kota dari berbagai unsur. Penguatan operasi lapangan dikombinasikan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga 13 Oktober 2026, OMC telah dilaksanakan 75 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) 70.400 kilogram. Langkah ini diharapkan membantu mempercepat pembentukan awan hujan di wilayah target, sehingga mendukung pemadaman dan pembasahan lahan secara lebih luas.
Karhutla berdampak langsung pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta aktivitas sosial-ekonomi. Kabut asap yang berkepanjangan dapat mengganggu mobilitas, pendidikan, dan produktivitas sektor-sektor kunci. Oleh karena itu, kebijakan penanganan yang menitikberatkan pada kecepatan, ketegasan, dan presisi menjadi penting agar eskalasi dampak dapat dicegah sejak dini.
Selain pemadaman dan pendinginan area kritis, personel gabungan melakukan pemantauan berkelanjutan di titik-titik rawan, terutama gambut. Data hotspot dari sistem pemantauan menjadi panduan menyusun prioritas operasi. Penegakan hukum diberikan tempat yang sama pentingnya agar tidak terjadi kelalaian maupun pembakaran yang disengaja. Di sisi lain, peluncuran teknologi dry ice diproyeksikan memperkaya instrumen mitigasi dampak kabut asap, bersanding dengan operasi udara dan penanganan darat.
Mengacu data terbaru, wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi menjadi prioritas penanganan—khususnya OKI dan wilayah-wilayah yang berada di lanskap gambut. Upaya dilakukan berlapis: patroli darat, pemadaman terukur, pembasahan berkelanjutan, serta dukungan udara melalui OMC. Transparansi progres dan hasil operasi kepada masyarakat juga ditekankan agar dukungan publik tetap kuat dan informasi yang beredar tidak simpang siur.
Rangkaian penanganan berlangsung seiring peningkatan hotspot yang terdeteksi per pertengahan Oktober 2026. Rapat koordinasi di Griya Agung menjadi simpul konsolidasi terbaru untuk mempertegas arah kebijakan, termasuk rencana peluncuran teknologi dry ice di Sumatera Selatan.
Kolaborasi lintas unsur pemerintah pusat dan daerah, serta satgas BPBD pada tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, menjadi tulang punggung operasi. Keterlibatan multipihak di lapangan—yang bergerak dari pencegahan hingga penindakan—menjadi kunci penguatan ketahanan daerah menghadapi puncak musim kering.
Menurunkan risiko karhutla secara sistematis, memperkecil luasan area terdampak, serta meminimalkan kabut asap yang berimbas pada kesehatan warga. Dengan dukungan teknologi seperti OMC dan dry ice, ditambah penguatan disiplin hukum serta kerja personel yang terarah, Sumatera Selatan menargetkan respons yang lebih efektif dan terukur. Apresiasi kepada pemerintah pusat disampaikan sebagai penanda pentingnya sinergi lintas level pemerintahan demi keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.