Artikel

Fenomena “Bakar Duit” di Bisnis Kafe Kekinian

05 Mei 2026 14:24 WIB | Oleh Tri | 155 pembaca

Palembang, KlikUrban.com — Tren bisnis kafe yang menjamur di berbagai kota, termasuk di Sumatera Selatan, kini mulai memunculkan sisi gelap yang jarang dibahas. Di balik interior mewah, mesin kopi mahal, dan tampilan ala franchise besar, banyak pelaku usaha justru terjebak dalam praktik “bakar duit” tanpa perencanaan bisnis yang matang.

Fenomena ini terlihat dari pola yang sama: modal besar digelontorkan di awal untuk menyewa ruko strategis, melakukan renovasi interior hingga ratusan juta rupiah, serta membeli mesin kopi berkelas premium. Ironisnya, langkah tersebut sering tidak diiringi pemahaman dasar tentang kesehatan finansial bisnis.

Modal Besar, Tapi Tanpa Arah Jelas

Banyak pelaku usaha memulai bisnis dengan gaya yang tampak profesional—langsung merekrut banyak karyawan dalam dua shift, seolah trafik pelanggan sudah stabil. Namun ketika ditanya soal konsep keuangan seperti EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization), tidak sedikit yang justru kebingungan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa bisnis yang dijalankan bukan berdasarkan strategi, melainkan lebih menyerupai hobi mahal yang terus menguras dana.

Salah Kaprah Memahami Investasi

Pengeluaran besar seperti mesin kopi dan renovasi seharusnya dikategorikan sebagai CAPEX (Capital Expenditure). Artinya, aset tersebut memiliki nilai penyusutan (depresiasi) dan biaya jangka panjang (amortisasi) yang harus diperhitungkan.

Sayangnya, banyak pelaku usaha menganggapnya sebagai “pajangan” demi gengsi. Akibatnya, saat mesin rusak atau tempat usaha perlu perbaikan, tidak ada cadangan dana yang tersedia karena keuntungan sudah habis di awal.

Enggan Investasi SDM, Berujung Operasional Kacau

Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah ketimpangan dalam pengambilan keputusan. Pelaku usaha berani mengeluarkan ratusan juta untuk peralatan, namun merasa keberatan saat harus menggaji manajer profesional.

Baca Juga :  Strategi "Rahasia" Memindahkan Tiang Listrik dan WiFi di Depan Rumah Tanpa Biaya

Padahal, peran manajer sangat krusial dalam menjaga stabilitas operasional dan memastikan bisnis berjalan efisien. Tanpa manajemen yang baik, pemilik usaha justru terjebak mengurus hal teknis sehari-hari, hingga kehilangan fokus pada strategi jangka panjang.

EBITDA, Kunci Bertahan yang Sering Diabaikan

Kesalahan fatal lainnya adalah menganggap uang yang tersisa di kas sebagai keuntungan bersih. Padahal, dalam bisnis kuliner, margin keuntungan bersih (net profit) seringkali hanya berkisar 10% atau bahkan kurang.

Konsep EBITDA seharusnya menjadi acuan utama untuk mengukur kesehatan bisnis. Dari angka tersebut, pelaku usaha perlu menyisihkan dana untuk pajak, biaya sewa berikutnya, serta perawatan aset. Tanpa perencanaan ini, banyak usaha akhirnya tumbang saat masa sewa habis.

Marketing vs Branding: Jangan Tertukar

Di era digital, banyak kafe fokus pada tampilan visual untuk menarik pelanggan melalui media sosial. Namun, strategi marketing tanpa didukung branding yang kuat hanya akan menghasilkan kunjungan sesaat.

Pengalaman pelanggan—mulai dari pelayanan, kebersihan, hingga konsistensi rasa—menjadi faktor utama yang menentukan apakah mereka akan kembali. Tanpa sistem operasional yang rapi, repeat customer sulit tercapai.

Realita Pahit: Untung Tipis, Biaya Membengkak

Dengan biaya operasional (OPEX) yang besar akibat kelebihan karyawan dan investasi alat yang tidak proporsional, banyak usaha kafe akhirnya kesulitan bertahan. Bahkan, dalam beberapa kasus, usaha sederhana seperti berjualan makanan ringan justru memiliki margin keuntungan yang lebih sehat.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa bisnis bukan sekadar soal tampilan dan gaya. Perencanaan keuangan, manajemen operasional, serta pemahaman konsep dasar seperti CAPEX dan EBITDA adalah fondasi utama untuk bertahan dalam persaingan.

Tanpa itu, modal besar hanya akan berubah menjadi cerita tentang bagaimana sebuah usaha “terlihat sukses” di awal, namun perlahan habis sebelum benar-benar berkembang. (Tri)

Baca Juga :  Kemlu RI Responsif Terhadap Permintaan PMI di Libya untuk Pulang ke Tanah Air